5 Sikap Orang Tua yang Kelihatannya "Tega", Padahal Bikin Anak Sukses dan Beradab
Banyak dari kita mungkin sering mengeluh dalam hati, "Kok anak zaman sekarang beda ya? Sering kurang sopan sama guru, bicaranya kasar, dan gampang banget ngambek."
Sebagai orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak di sekolah, pemandangan seperti ini memang makin sering terjadi. Anak-anak seolah kehilangan kompas sopan santun. Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya adalah perubahan gaya mendidik di rumah. Kadang, karena saking sayangnya dan takut anak sedih, orang tua jadi terlalu "lembek".
Padahal, mendidik anak itu butuh ketegasan. Tegas itu bukan berarti kasar, marah-marah, atau main tangan. Tegas artinya kita konsisten sama aturan demi masa depan anak.
Nah, berikut ini ada 5 perilaku orang tua yang sekilas kelihatannya "tega" atau kaku, tapi justru inilah kunci mencetak anak yang kuat mentalnya dan punya sopan santun tinggi!
1. Biarkan Anak Kena Tegur Kalau Lupa (Jangan Jadi "Pahlawan" Terus)
Misalnya anak lupa bawa PR atau seragam olahraganya tertinggal di rumah. Insting kita pasti ingin buru-buru menyusul ke sekolah untuk mengantarkannya, kan? Mulai sekarang, tahan diri Anda. Biarkan anak ditegur oleh gurunya di sekolah.
-
Kelihatannya: Tega banget sama anak sendiri.
-
Aslinya: Kita sedang mengajari anak soal sebab-akibat. Kalau salah, ya harus berani tanggung jawab. Anak yang selalu "diselamatkan" orang tuanya nanti akan tumbuh jadi orang yang suka menyalahkan orang lain kalau ada masalah.
2. Wajibkan Anak Sopan Sama Orang Tua Tanpa Tawar Menawar
Aturan di rumah harus jelas: anak tidak boleh memotong pembicaraan orang tua, nada bicara tidak boleh lebih tinggi, dan biasakan salim (cium tangan).
-
Kelihatannya: Kuno, kolot, atau terlalu mengekang kebebasan anak.
-
Aslinya: Rasa hormat itu dilatih dari rumah. Kalau di rumah saja anak merasa derajatnya sama dengan orang tua dan boleh ngomong seenaknya, jangan heran kalau di luar rumah mereka akan meremehkan guru atau orang yang lebih tua.
3. Kasih Tugas Rumah, Walaupun Anak Bilang "Capek Belajar"
Minta anak untuk rutin melakukan pekerjaan rumah yang ringan sesuai umurnya. Misalnya, anak SD sudah wajib merapikan kasurnya sendiri, mencuci piring habis makan, atau menyapu halaman. Jangan biasakan anak dibebaskan dari tugas hanya karena alasan "yang penting kamu fokus belajar saja."
-
Kelihatannya: Kayak mempekerjakan anak sendiri.
-
Aslinya: Ini melatih kemandirian dan rasa peduli. Anak yang terbiasa bantu-bantu di rumah tidak akan tumbuh jadi orang egois. Mereka akan sadar bahwa kalau mau hidup nyaman, ya harus ikut capek dan berkontribusi.
4. Cuekin Saat Anak Ngamuk Minta Sesuatu (Tantrum)
Ini yang paling berat. Saat anak menangis berguling-guling di minimarket karena minta mainan atau maksa minta HP, biarkan saja dia menangis. Jangan dibujuk atau disogok biar diam. Tetap temani di dekatnya, tapi jangan turuti kemauannya.
-
Kelihatannya: Orang tua yang kejam dan nggak punya perasaan.
-
Aslinya: Anak sedang belajar bahwa dunia ini tidak selalu menuruti apa maunya. Kalau orang tua sering mengalah saat anak ngamuk, anak akan menjadikan tangisan sebagai senjata. Tapi kalau orang tua tegas, mental anak akan jauh lebih tahan banting dan nggak gampang stres saat menghadapi kesulitan di masa depan.
5. Batasi HP dengan Ketat (Bodo Amat Kata Orang!)
Zaman sekarang, anak mana yang nggak pegang HP? Tapi, Anda sebagai orang tua harus pegang kendali penuh. Batasi jam mainnya dan jangan ragu menyita HP kalau anak melanggar aturan. Jangan goyah hanya karena anak protes, "Tapi teman-temanku main HP terus, Bu/Pak!"
-
Kelihatannya: Diktator dan bikin anak kurang gaul.
-
Aslinya: HP dan tontonan internet itu bikin anak gampang emosian dan susah fokus. Apalagi kalau mereka sampai meniru bahasa-bahasa kasar dari game atau video online. Membatasi HP adalah cara terbaik menyelamatkan otak dan akhlak anak kita.
Kesimpulannya...
Mendidik anak memang butuh air mata, baik air mata anak maupun orang tua yang menahan sabar. Lebih baik kita melihat anak menangis sekarang karena dididik disiplin, daripada kita yang menangis di masa depan karena melihat anak salah pergaulan dan tidak punya adab.
Semangat untuk semua orang tua, Anda tidak sendirian dalam perjuangan ini!
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Inovasi Baru MI Miftahul Ulum Kebotohan: Kini Pantau Hafalan Al-Qur'an Anak Lebih Mudah Langsung dari HP!
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Bapak/Ibu wali murid yang kami hormati, pendidikan agama Islam, khususnya program menghafal Al-Qur'an (Tahfidz), merupakan salah satu
Mengapa Prestasi Akademis Saja Tidak Cukup? Mengupas Rahasia Neuroscience di Balik Ketajaman Logika Anak
Sebagai orang tua yang memiliki visi jauh ke depan, kita memahami bahwa dunia yang akan dihadapi anak-anak kita esok jauh lebih kompleks dari hari ini. Di era di mana kecerdasan buatan
